Pages

Banner 468 x 60px

 
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 21 Maret 2012

Pentingnya pendidikan seks pada anak usia dini

0 komentar
Ketika kita mendengar kata seks apa yang terpikir di benak kita? Pornografi, vulgar, menjijikkan dll. Memang sebagian besar masyarakat menganggap membicarakan seks itu adalah sesuatu hal yang tabu dan tak layak dibicarakan. Ketika anak kita bertanya soal seksualitasnya pasti kita dengan cepat akan mengalihkannya dan akan mengatakan “ Hus…g’baik ngomong gitu, masih kecil nanti kalo sudah besar kan tau sendiri.”. seperti misalnya juga ketika kita melarang anak kita “Jangan pacaran, jangan berduaan dengan lawan jenis, jangan ini…jangan itu..bla…bla…bla”. tapi kita tidak memberikan alasan yang jelas kenapa itu dilarang. sikap seperti itulah yang salah, karena anak usia remaja adalah anak yang ingin tahu banyak hal, bila kita sebagai orang tua tidak bisa mengarahkan dengan baik, tidak bisa memberikan informasi yang jelas cenderung mereka akan mencari informasi dari orang-orang yang ada disekitarnya, teman-temannya, tetangga dan informasi tersebut belum tentulah informasi yang baik apalagi dengan didukung dengan kemajuan teknologi seperti sekarang ini, mereka bisa mencari informasi apa saja yang mereka butuhkan hanya dengan mengetikkan satu kata atau kalimat di google search semuanya akan muncul dengan sendirinya.
Sesuai dengan data yang di release oleh wcc jombang bahwa pada tahun 2011 angka remaja yang sudah melakukan hubungan seksual pra-nikah adalah sekitar 30 kasus, itu hanya di wilayah Jombang saja.
Tetunya kita sebagai orang tua tidak mau itu terjadi seperti maraknya kasus-kasus yang belakangan ini sering terjadi yaitu : perkosaan, pelecehan seksual, anak hamil di luar nikah. Dan berdasarkan kasus-kasus di atas pendidikan seks itu sebaiknya di ajarkan oleh orang tua kepada anak sedini mungkin supaya anak kita tidak terjebak pada informasi yang salah dan termakan oleh mitos-mitos yang tidak benar.

Pendidikan seks disini adalah suatu kegiatan pendidikan yang berusaha untuk memberikan pengetahuan agar remaja dapat mengubah perilaku seksualnya ke arah yang lebih bertanggung jawab. Pendidikan seks disini juga dapat membantu anak-anak remaja kita untuk menghadapi masalah hidup yang bersumber pada dorongan seksualnya. Dengan demikian pendidikan seks ini bermaksud untuk menerangkan segala hal yang berhubungan dengan seks dan seksualitas dalam bentuk yang wajar.
Pertanyaannya adalah kapan pendidikan seks ini dapat diberikan kepada anak?. Ada beberapa fase dalam pemberian pendidikan seks terhadap anak yaitu sesuai dengan umur mereka.
  • Fase pertama, masa pra-pubertas yaitu pada usia 7-10 tahun. Pada tahap ini seorang anak diajarkan mengenal identitas diri mereka yang berkaitan erat dengan organ biologis, serta perbedaan antara laki-laki dan perempuan. Cara penyampaiannya pun harus jelas, tidak mengubah nama untuk alat kelamin mereka. Pada masa ini juga anak diberi pelajaran tentang meminta izin dan mengetuk pintu ketika akan masuk kekamar orang tuanya.
  • Fase kedua, masa pubertas yaitu pada usia 10-14 tahun. Pada tahap umur ini, anak harus diberikan penejelasan mengenai fungsi biologis secara ilmiah seperti menjelaskan menstruasi pada anak perempuan dan mimpi basah pada laki-laki.
  • Fase ketiga, masa adolesen yaitu pada usia 14-16 tahun. Pada tahap ini adalah tahap yang paling penting karena pada tahap ini seorang anak menjadi sangat kritis, naluri ingin tahu dalam diri anak semakin meningkat ditambah dengan tahapan umur semakin menampakkan kematangan berfikir. Pada masa ini organ reproduksi seorang anak mulai berfungsi, maka anak bisa diberi pelajaran tentang etika hubungan seksual dan menanamkan rasa tanggung jawab.
  • Fase keempat masa dewasa/pemuda adalah dimana seorang anak diberi penjelasan tentang menjaga diri jika belum mampu melaksanakan pernikahan.
                                                                                 
Dengan memberikan pendidikan seks sedini mungkin diharapkan seorang anak dapat terhindar dari resiko negative perilaku seksual, dan tidak terjerumus pada pola relasi yang menyimpang dengan begitu seorang anak akan tahu dan mengerti batasan-batasan saat menjalin relasi dengan lawan jenisnya.
Read more...

Kamis, 01 Maret 2012

Tips mengatasi rasa grogi saat presentasi

0 komentar
Hampir setiap orang pasti pernah mengalami nervous ataupun grogi saat akan melakukan presentasi maupun mengisi suatu acara. Bahkan orang yang sudah berpengalamanpun tidak terlepas dari perasaan tersebut. Perasaan grogi maupun nervous tidak dapat dihindari begitu saja, berikut ini adalah kiat-kiat untuk mengatasi nervous atau grogi.
1. Pahami dulu bahwa perasaan grogi adalah energy positif
Saat grogi perasaan yang dirasakan pastilah dada berdebar-debar, muncul keringat dingin, bibir gemetar, dan seolah darah mengalir lebih cepat. Pahami bahwa perasaan itu adalah sebuah dorongan energy yang meluap dalam diri, tidak ada yang salah pada dorongan energy itu, sebaiknya dorongan energy tersebut olah menjadi sesuatu hal yang positif, misalnya sebagai bahan penyemangat ataupun sebagai bahan bakar yang mendorong melakukan presentasi lebih baik.
2. Bersikaplah nothing to loose
Keinginan yang berlebihan seperti misalnya ingin tampil sesempurna mungkin malah akan semakin membuat perasaan grogi, karena secara negative pikiran akan terbebani ketakutan untuk membuat kesalahan, kekhawatiran akan gagal, kecemasan bila akan melakukan kekonyolan, dan berbagai bayangan-bayangan negative. Sebaiknya sikap yang harus ditunjukkan yaitu perasaan nothing to loose atau apa adanya, bukan bayangan-bayangan negative yang ditakutkan tersebut, toh kalaupun gagal masih ada hari esok untuk memperbaiki.
3. Tenangkan diri
Sementara menunggu giliran untuk melakukan presentasi, sebaiknya atur nafas terlebih dahulu. Tarik nafas dalam-dalam keluarkan lambat-lambat. Keluarkan energy yang meletup dalam dada melalui hembusan nafas yang teratur. Tenangkan jiwa dan pikiran, bila perlu pejamkan mata dan kumpulkan energy positif sebanyak-banyaknya dan jangan biarkan pikiran buruk mengganggu ketenangan jiwa.
4. Kerahkan energy
Kerahkan energy dalam diri, bila para audiens memberikan applaus pada pembicara sebelumnya, maka kerahkan energy untuk memberikan applaus yang sama meriahnya seperti audiens yang lain. Berjalanlah dengan tegap dan mantap, lakukan semuanya dengan tegas tanpa ragu, biarkan pikiran positif masuk kedalam diri.
5. Berbicaralah dengan suara keras dan lantang (Tegas dan jelas)
Bila cara berbicara lambat, maka bibir akan terasa makin gemetar dan suara pun juga bergetar. Salurkan rasa grogi melalui suara yang keras dan lantang. Karena suara yang keras bukan hanya mampu mengatasi kecemasan, namun juga mampu menyalurkan energy positif dalam tubuh. Tapi tetap lakukanlah semuanya dengan wajar jangan berlebihan.
6. Diam
Ketegangan dalam diri bias diatasi dengan sebelum melakukan presentasi sebaiknya diam sejenak beberapa detik. Biarkan ketegangan terserap dan jadi ketegangan audiens, bila dirasa ketegangan pada audiens cukup, mulailah presentasi dengan sebuah pembukaan yang kuat, tajam dan lantang.
7. Lontarkan humor yang wajar
Lenturkan ketegangan dengan mengeluarkan humor yang wajar, sebaiknya itu direncanakan dengan baik, namun jangan sampai menghilangkan spontanitas. Dan humor yang terbaik adalah humor yang tidak akan melukai perasaan siapapun.
Read more...